Selasa, 28 Mei 2013
Selasa, 21 Mei 2013
Hening
di Ujung Senja
Ia tiba-tiba muncul
di muka pintu. Tubuhnya kurus, di sampingnya berdiri anak remaja. Katanya itu
anaknya yang bungsu. Kupersilakan duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa
mereka berdua?
“Kita teman bermain
waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi Danau Toba,” katanya
memperkenalkan diri. Wau, kataku dalam hati. Itu enam puluh tahun yang lalu.
Ketika itu masih anak kecil, usia empat tahun barangkali. “Ketika sekolah SD
kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula,” katanya
melanjutkan. Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Belum juga dapat kutebak
siapa mereka. Ia seakan-akan mengetahui siapa mereka sesungguhnya. “Wajahmu
masih seperti dulu,” katanya melanjutkan. “Tidakkah engkau peduli kampung
halaman?” tanyanya. “Tidakkah engkau peduli kampung halamanmu?” tanyanya
membuat aku agak risih. Dulu pernah keinginan timbul di hati untuk membangun
kembali rumah di atas tanah adat yang tidak pernah dijual. Pelahan-lahan timbul
ingatan di dalam benakku.
“Rumah kita dahulu berhadap-hadapan, ya?” kataku. Ia mengangguk.
“Kalau begitu, kau si Tunggul?”
“Ya,” jawabnya dengan
wajah yang mulai cerah.
Lalu ia mengatakan
perlunya tanah leluhur dipertahankan. “Jangan biarkan orang lain menduduki
tanahmu. Suatu saat nanti, keturunanmu akan bertanya-tanya tentang negeri
leluhur mereka,” katanya dengan penuh keyakinan. “Kita sudah sama tua. Mungkin
tidak lama lagi kita akan berlalu. Kalau kau perlu bantuan, aku akan
menolongmu.”
“Akan kupikirkan,”
kataku. “Nanti kubicarakan dengan adik dan kakak,” jawabku.
Pertemuan singkat itu
berlalu dalam tahun. Pembicaraan sesama kakak-beradik tidak tiba pada
kesimpulan. Masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Dan ketika aku
berkunjung ke kampung halaman, kutemukan dia dengan beberapa kerabat dekat
lainnya. Kudapati ia terbaring di tempat tidur, di ruangan sempit dua kali dua
meter. Beberapa slang oksigen di hidungnya. Ia bernapas dengan bantuan oksigen.
Matanya berkaca-kaca sambil mulutnya berkata, “Kudengar kau datang. Beginilah
keadaanku. Sudah berbulan-bulan.” Agak sulit baginya berbicara. Dadanya tampak
sesak bernapas. Aku tidak mungkin berbicara mengenai tanah itu. Kuserahkan
persoalannya kepada keluarga dekat.
Dalam kesibukan,
waktu jua yang memberi kabar. Seorang kerabat dekat, waktu berjumpa di Jakarta,
berbisik padaku, “Tunggul sudah tiada, pada usia yang ke-67.”
“Oh, Tuhan,” kataku
kepada diriku sendiri. Kami lahir dalam tahun yang sama. Sebelum segala sesuatu
rencana terwujud, usia telah ditelan waktu! Giliranku? bisikku pada diriku.
***
Rendi selalu datang
dalam mimpi. Diam-diam, lalu menghilang. Dahulu ia teman sekantor. Tetapi,
karena mungkin ingin memperbaiki nasib, ia mengirim istrinya ke Amerika, justru
ingin mengadu nasib. Ia menyusul kemudian, dengan meninggalkan pekerjaan tanpa
pemberitahuan. Lewat Bali, Hawaii, ia sampai ke California. Di negeri penuh
harapan ini ia memulai kariernya yang baru, bangun subuh dan mengidari bagian
kota, melempar-lemparkan koran ke rumah-rumah. Entah apalagi yang dilakukannya,
demi kehidupan yang tidak mengenal belas kasihan.
Setahun berada di
sana, ia kehilangan istrinya, derita yang membawa duka karena kanker payudara.
Sepi merundung hidupnya, di tengah keramaian kota dan keheningan pagi dan
senja, membuatnya resah. Barangkali hidup tidak mengenal kompromi. Kerja apa
pun harus dilakukan dengan patuh. Tetapi usia yang di atas enam puluhan itu
cukup melelahkan untuk bertahan hidup. Tiada kawan untuk membantu. Semua
bertahan hidup harus berkejaran dengan waktu. Dari agen koran subuh, sampai
rumah jompo dari siang sampai senja, lalu pulang ke apartemen, merebahkan diri
seorang diri, sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus
kehidupan.
Dari kesunyian hati
itu, ia cuti ke tanah air, untuk mencari teman hidup pada usia senja.
Tetapi, dalam
kesunyian di tanah air, ia mengembara seorang diri, dengan bus dan kereta api.
Seperti seorang turis, suatu senja, entah serangan apa yang mendera dadanya,
barangkali asmanya kumat. Ia terkulai di ruang hajat. Di sebuah stasiun kereta,
petugas mencoba membuka kamar toilet. Menemukan kawan itu dalam keadaan tidak
bernyawa. Identitas diketahui dengan alamat di Los Angeles. Petugas stasiun
menghubungi nama yang tertera di Los Angeles. Dari Los Angeles datang telepon
ke alamat di Bandung. Dari Bandung berita disampaikan kepada anaknya, tetapi
kebetulan sedang ke Paris. Jenazah dibawa ke rumah anaknya, dan dimakamkan
kerabat dekat yang ada di kota “Y”.
Tragis, pada usia
ke-64 itu, ia mengembara jauh merajut hidup, tapi ia berhenti dalam kesepian,
jauh dari kenalan dan kerabat. Beberapa kenalan saja yang menghantarnya ke
tempat istirah.
Terlalu sering ia
datang di dalam mimpi yang membuatku galau.
***
Beberapa waktu
kemudian, aku mendapat SMS. Aku berhenti di pinggir jalan ramai dan mencoba membaca
berita yang masuk.
Lusiana baru saja
meninggal dunia. Tutup usia menjelang ulang tahun ke-61.
Besok akan
dimakamkan. Kalau sempat, hadirlah.
Lusiana seorang
sekretaris eksekutif yang hidup mati demi kariernya. Ia lupa kapan ia pernah
disentuh rasa cinta, sampai cinta itu pun ditampiknya. Menjelang usia renta, ia
menyaksikan ayah dan ibunya satu demi satu meninggalkan hidup yang fana. Juga
abangnya, pergi mendadak entah menderita penyakit apa. Karier tidak
meninggalkan bekas. Tidak ada ahli waris. Kawan-kawan meratapinya, dan
melepasnya dalam kesunyian hati.
Hening di atas
nisannya. Burung pun enggan hinggap dekat pohon yang menaungi makamnya.
Tidak biasa aku
berlibur dengan keluarga. Kepergian ini hanyalah karena anak yang hidup di
tengah keramaian Jakarta, yang berangkat subuh dan pulang menjelang tengah
malam dari kantornya. Ada kejenuhan dalam tugasnya yang rutin, membuat ia
mengambil keputusan libur ke Bali bersama orang tua. Aku yang terbiasa masuk
kantor dan pulang kantor selama puluhan tahun, kerapkali lupa cuti karena tidak
tahu apa yang harus dilakukan waktu cuti. Dan kini, aku duduk di tepi laut
Hindia, menyaksikan ombak memukul-mukul pantai, dan sebelum senja turun ke tepi
laut, matahari memerah dan bundar, cahaya keindahan Tuhan, sangat mengesankan
ratusan orang dari pelbagai bangsa terpaku di atas batu-batu.
Tiba-tiba ada dering
di HP istriku, sebuah SMS dengan tulisan:
Tan, Ibu Maria baru
saja meninggal dunia. Kasihan dia. Di dalam Kitab Sucinya banyak mata uang
asing.
Ibu Maria menyusul
suaminya yang sudah bertahun-tahun meninggal dunia, dalam usianya yang ke-72.
Ia pekerja keras sepeninggal suaminya yang dipensiunkan sebelum waktunya.
Suaminya meninggal dalam usia ke-67 saat anaknya berpergian ke luar negeri dan
tidak hadir ketika penguburannya.
Ibu Maria meninggal
mendadak.
***
Aku baru saja
menerima telepon dari kakakku yang sulung, dalam usianya yang ke-78. Kudengar
suaranya gembira, walaupun aku tahu sakitnya tidak kunjung sembuh. Kalimat
terakhirnya dalam telepon itu berbunyi: Tetaplah tabah, Dik. Kamu dan
anak-anakmu, semua anak cucuku dan buyut, supaya mereka tetap sehat….
Dan tadi pagi, aku
teringat. Usia menjelang ke-70, walaupun sebenarnya belum sampai ke situ, aku
bertanya-tanya kepada diriku, jejak mana yang sudah kutoreh dalam hidup ini,
dan jejak-jejak apakah yang bermakna sebelum tiba giliranku?
Aku tepekur.
Hening di ujung
senja.
Hening di Ujung Senja Ia tiba-tiba muncul di muka pintu. Tubuhnya kurus, di sampingnya berdiri anak remaja. Katanya itu anaknya yang bungsu. Kupersilakan duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa mereka berdua? “Kita teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi Danau Toba,” katanya memperkenalkan diri. Wau, kataku dalam hati. Itu enam puluh tahun yang lalu. Ketika itu masih anak kecil, usia empat tahun barangkali. “Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula,” katanya melanjutkan. Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Belum juga dapat kutebak siapa mereka. Ia seakan-akan mengetahui siapa mereka sesungguhnya. “Wajahmu masih seperti dulu,” katanya melanjutkan. “Tidakkah engkau peduli kampung halaman?” tanyanya. “Tidakkah engkau peduli kampung halamanmu?” tanyanya membuat aku agak risih. Dulu pernah keinginan timbul di hati untuk membangun kembali rumah di atas tanah adat yang tidak pernah dijual. Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benakku. “Rumah kita dahulu berhadap-hadapan, ya?” kataku. Ia mengangguk. “Kalau begitu, kau si Tunggul?” “Ya,” jawabnya dengan wajah yang mulai cerah. Lalu ia mengatakan perlunya tanah leluhur dipertahankan. “Jangan biarkan orang lain menduduki tanahmu. Suatu saat nanti, keturunanmu akan bertanya-tanya tentang negeri leluhur mereka,” katanya dengan penuh keyakinan. “Kita sudah sama tua. Mungkin tidak lama lagi kita akan berlalu. Kalau kau perlu bantuan, aku akan menolongmu.” “Akan kupikirkan,” kataku. “Nanti kubicarakan dengan adik dan kakak,” jawabku. Pertemuan singkat itu berlalu dalam tahun. Pembicaraan sesama kakak-beradik tidak tiba pada kesimpulan. Masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Dan ketika aku berkunjung ke kampung halaman, kutemukan dia dengan beberapa kerabat dekat lainnya. Kudapati ia terbaring di tempat tidur, di ruangan sempit dua kali dua meter. Beberapa slang oksigen di hidungnya. Ia bernapas dengan bantuan oksigen. Matanya berkaca-kaca sambil mulutnya berkata, “Kudengar kau datang. Beginilah keadaanku. Sudah berbulan-bulan.” Agak sulit baginya berbicara. Dadanya tampak sesak bernapas. Aku tidak mungkin berbicara mengenai tanah itu. Kuserahkan persoalannya kepada keluarga dekat. Dalam kesibukan, waktu jua yang memberi kabar. Seorang kerabat dekat, waktu berjumpa di Jakarta, berbisik padaku, “Tunggul sudah tiada, pada usia yang ke-67.” “Oh, Tuhan,” kataku kepada diriku sendiri. Kami lahir dalam tahun yang sama. Sebelum segala sesuatu rencana terwujud, usia telah ditelan waktu! Giliranku? bisikku pada diriku. *** Rendi selalu datang dalam mimpi. Diam-diam, lalu menghilang. Dahulu ia teman sekantor. Tetapi, karena mungkin ingin memperbaiki nasib, ia mengirim istrinya ke Amerika, justru ingin mengadu nasib. Ia menyusul kemudian, dengan meninggalkan pekerjaan tanpa pemberitahuan. Lewat Bali, Hawaii, ia sampai ke California. Di negeri penuh harapan ini ia memulai kariernya yang baru, bangun subuh dan mengidari bagian kota, melempar-lemparkan koran ke rumah-rumah. Entah apalagi yang dilakukannya, demi kehidupan yang tidak mengenal belas kasihan. Setahun berada di sana, ia kehilangan istrinya, derita yang membawa duka karena kanker payudara. Sepi merundung hidupnya, di tengah keramaian kota dan keheningan pagi dan senja, membuatnya resah. Barangkali hidup tidak mengenal kompromi. Kerja apa pun harus dilakukan dengan patuh. Tetapi usia yang di atas enam puluhan itu cukup melelahkan untuk bertahan hidup. Tiada kawan untuk membantu. Semua bertahan hidup harus berkejaran dengan waktu. Dari agen koran subuh, sampai rumah jompo dari siang sampai senja, lalu pulang ke apartemen, merebahkan diri seorang diri, sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus kehidupan. Dari kesunyian hati itu, ia cuti ke tanah air, untuk mencari teman hidup pada usia senja. Tetapi, dalam kesunyian di tanah air, ia mengembara seorang diri, dengan bus dan kereta api. Seperti seorang turis, suatu senja, entah serangan apa yang mendera dadanya, barangkali asmanya kumat. Ia terkulai di ruang hajat. Di sebuah stasiun kereta, petugas mencoba membuka kamar toilet. Menemukan kawan itu dalam keadaan tidak bernyawa. Identitas diketahui dengan alamat di Los Angeles. Petugas stasiun menghubungi nama yang tertera di Los Angeles. Dari Los Angeles datang telepon ke alamat di Bandung. Dari Bandung berita disampaikan kepada anaknya, tetapi kebetulan sedang ke Paris. Jenazah dibawa ke rumah anaknya, dan dimakamkan kerabat dekat yang ada di kota “Y”. Tragis, pada usia ke-64 itu, ia mengembara jauh merajut hidup, tapi ia berhenti dalam kesepian, jauh dari kenalan dan kerabat. Beberapa kenalan saja yang menghantarnya ke tempat istirah. Terlalu sering ia datang di dalam mimpi yang membuatku galau. *** Beberapa waktu kemudian, aku mendapat SMS. Aku berhenti di pinggir jalan ramai dan mencoba membaca berita yang masuk. Lusiana baru saja meninggal dunia. Tutup usia menjelang ulang tahun ke-61. Besok akan dimakamkan. Kalau sempat, hadirlah. Lusiana seorang sekretaris eksekutif yang hidup mati demi kariernya. Ia lupa kapan ia pernah disentuh rasa cinta, sampai cinta itu pun ditampiknya. Menjelang usia renta, ia menyaksikan ayah dan ibunya satu demi satu meninggalkan hidup yang fana. Juga abangnya, pergi mendadak entah menderita penyakit apa. Karier tidak meninggalkan bekas. Tidak ada ahli waris. Kawan-kawan meratapinya, dan melepasnya dalam kesunyian hati. Hening di atas nisannya. Burung pun enggan hinggap dekat pohon yang menaungi makamnya. Tidak biasa aku berlibur dengan keluarga. Kepergian ini hanyalah karena anak yang hidup di tengah keramaian Jakarta, yang berangkat subuh dan pulang menjelang tengah malam dari kantornya. Ada kejenuhan dalam tugasnya yang rutin, membuat ia mengambil keputusan libur ke Bali bersama orang tua. Aku yang terbiasa masuk kantor dan pulang kantor selama puluhan tahun, kerapkali lupa cuti karena tidak tahu apa yang harus dilakukan waktu cuti. Dan kini, aku duduk di tepi laut Hindia, menyaksikan ombak memukul-mukul pantai, dan sebelum senja turun ke tepi laut, matahari memerah dan bundar, cahaya keindahan Tuhan, sangat mengesankan ratusan orang dari pelbagai bangsa terpaku di atas batu-batu. Tiba-tiba ada dering di HP istriku, sebuah SMS dengan tulisan: Tan, Ibu Maria baru saja meninggal dunia. Kasihan dia. Di dalam Kitab Sucinya banyak mata uang asing. Ibu Maria menyusul suaminya yang sudah bertahun-tahun meninggal dunia, dalam usianya yang ke-72. Ia pekerja keras sepeninggal suaminya yang dipensiunkan sebelum waktunya. Suaminya meninggal dalam usia ke-67 saat anaknya berpergian ke luar negeri dan tidak hadir ketika penguburannya. Ibu Maria meninggal mendadak. *** Aku baru saja menerima telepon dari kakakku yang sulung, dalam usianya yang ke-78. Kudengar suaranya gembira, walaupun aku tahu sakitnya tidak kunjung sembuh. Kalimat terakhirnya dalam telepon itu berbunyi: Tetaplah tabah, Dik. Kamu dan anak-anakmu, semua anak cucuku dan buyut, supaya mereka tetap sehat…. Dan tadi pagi, aku teringat. Usia menjelang ke-70, walaupun sebenarnya belum sampai ke situ, aku bertanya-tanya kepada diriku, jejak mana yang sudah kutoreh dalam hidup ini, dan jejak-jejak apakah yang bermakna sebelum tiba giliranku? Aku tepekur. Hening di ujung senja.
Seno Gumilar Ajidarma
Senin, 20 Mei 2013
Kamis, 16 Mei 2013
Langganan:
Komentar (Atom)

